Cerpen Indah Seorang Teman

Friend 2 Friend

Ilustrasi

Cerpen Karangan: Intan Dewi

Dua hari telah kulalui dengan perasaan berbunga, ahh rasanya menyenangkan ketika melihat dia tertawa meskipun dia tidak menyadari bahwa mataku terus tertuju padanya. Menurutku itu cukup, karena jika aku terlalu dekat dengannya, aku takut.
Aku takut rasa sukaku itu berubah menjadi cinta, dan kalian tentu tahu jika kita mencintai seseorang kita akan merasakan rasa rindu. Aku takut ketika rindu itu datang, dia yang aku rindukan merindukan orang lain.
Ketakutanku menjadi kenyataan, ya.. dia milik kak Nurul sekarang. Aku mengetahuinya karena hubungan mereka telah menjadi trending topic hari ini di sekolah. Siapa yang tidak tahu kalau ketua PMR berpacaran dengan wakilnya sendiri yang notabene adalah ‘bronis’, alias berondong manis gitu, memang kak Fahmi manis dan itu adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri.
Ingin sekali aku meluapkan rasa kecemburuanku ketika mereka berdua melintas, ah.. tapi siapa aku? Aku hanyalah seorang secret admirer yang terjebak dalam perasaan sukaku sendiri. Kini aku menatap punggung mereka yang menuju kantin dengan rasa kecewa, tanpa aba-aba kak Fahmi berbalik lalu menatapku, aku menunduk menerima tatapan itu lalu berlalu menuju kelas meskipun jam istirahat belum usai.

Malam semakin mengelepar
Menenggelamkanku dalam lamunan
Tentang dia yang kurasa nyata
Padahal tidak bisa kuraba
Penaku berhenti menari di atas buku kecil yang besedia menampung segala rasaku sepanjang hari ini, aku menguap lalu melihat hasil karyaku yang telah kubungkus rapi dengan kertas kado berwarna biru langit. Ingin sekali hari esok segera menyapa, jadi kuputuskan untuk tidur dan berharap memimpikan dia.
Harapanku menjadi kenyataan, tapi harus kubayar dengan bangun kesiangan. Untunglah pintu gerbang baru akan ditutup ketika aku datang, secutity itu terus menggerutu ketika aku masuk ke halaman sekolah. Tanpa menghiraukan ocehannya aku berlari menuju kelas. Sepertinya keberuntungan tengah berpihak padaku, sesampainya di kelas aku tidak di hukum. Tapi aku kecewa, karena aku tidak menemukan sosoknya di depan kelas hari ini.
“adik-adik yang baik, kadonya dikumpulin sekarang ya, ke keranjang ini” kata kak Chika lantang
“iyaaa… kak…” seru teman sekelasku serempak. Sepertinya hanya aku yang tidak menjawab, karena aku masih terengah-engah mengatur nafasku.
Semuanya beranjak ke depan, kecuali aku yang masih sibuk mencari kotak mugil berwarna biru. Aku yakin tadi pagi sudah kusimpan dengan baik dan rapi di tasku ini. Tapi nihil, aku tidak menemukan apapun kecali sebuah lubang yang tidak terlalu besar di dasar tasku. Akhh pasti terjatuh di suatu tempat.
“Fahira kenapa?” Tanya Rena teman sebangkuku yang telah kembali duduk di samping kiriku.
“kadoku hilang Ren” jawabku dengan suara lemah.
“ya udah ga apa-apa, ini kan bukan tugas wajib” balas Rena berusaha menenangkanku.
“tapi…”
Aku berhenti berbicara dan memperhatikan kode mata Rena yang menuju ke arah pintu. Ternyata dia baru datang, seseorang yang aku harapkan kehadirannya. Ada sebuah benda yang mengelilingi lingkar lengan kirinya.
“Ren, kamu liat gak gelang yang tadi dipakai kak Fahmi?” tanyaku penuh semangat, hingga mataku yang sipit terlihat membulat.
“oh itu, iya aku liat. Bagus ya, memang kenapa?” Rena menjawabku dengan polos.
“itu kado yang aku cari-cari Ren”
“ahaaa… ternyata dia nyangkut di tempat yang tepat”
Rena cekikikan dengan pernyataannya sendiri, sedangkan aku tersenyum, ternyata tidak sia-sia aku membuatnya semalaman, meskipun dia tidak tahu bahwa kado itu dariku, batinku dalam hati.
Perpustakaan menjadi tempat pelarian yang asik ketika jam istirahat telah tiba, karena aku bisa terhindar dari pemandangan yang hanya akan membuatku mengelus dada. Suara bel masuk terpaksa menyudahi buku yang baru setengahnya kubaca. Rena tiba lebih dahulu di kelas, karena jarak dari kantin ke kelas tidak terlalu jauh. Sebuah keberkahan bagi Rena yang gembul, belum sempat aku duduk dia memberikan aku sebuah amplop berwarna biru muda.
“Apa ini?” tanyaku penasaran.
“Amplop” jawabnya singkat karena tengah anteng dengan cimol pedas mbok Inem.
“Ya aku tahu Ren, maksudku isinya apa? Masa cimol” aku tertawa lalu merebut plastik cimol yang ada digengamannya.
“Nggak tau, tadi aku nemu itu di kolong meja, terus ada tulisan to: Fahira” Lanjutnya gelagapan karena pedas. “ahhh jangan banyak-banyak ra kalo minta” Rena memonyongkan bibirnya sambil berusaha mengambil kembali cimolnya.
Rasa penasaranku memuncak karena setelah aku balik kesana-kemari amplop itu tidak mempunyai empunya. Aku-pun duduk lalu perlahan mulai membukanya dengan H2C alias harap-harap cemas, isinya singkat, sungguh tidak seperti yang aku harapkan.
Aku tunggu kamu di taman belakang
Jam 12.30
“isinya apa ra?” Tanya Rena membuatku kaget.
“hah.. bukan apa-apa kok, hehe cuma surat kaleng biasa” ucapku asal.
Hari ini adalah hari terakhir masa orientasi siswa, Aku resmi menjadi siswi SMU dan mengganti seragam putih biruku menjadi seragam putih abu-abu. Tidak ada lagi main-main, yang ada hanya keseriusan supaya aku mendapatkan beasiswa yang aku inginkan lalu membuat orangtuaku bangga.
Kakak-kakak yang menjadi wali kelas menyalami sebagai tanda bahwa kami telah menjadi keluarga besar dari SMA Pelita Bangsa, jujur aku agak salting ketika mendapati giliran untuk menyalami kak Fahmi.
Waktu telah menunjukan pukul 12.30 di jam tangan yang melingkari lengan mungilku, aku memacu langkahku menuju taman belakang yang dia janjikan. Seseorang tengah bersandar di pohon akasia, membelakangiku. Dari belakang dia seperti orang yang aku kenal, ah tapi mana mungkin, aku mengindahkan fikiranku dan mulai melangkah mendekatinya.
“kamu siapa?” tanyaku ragu.
Dia berbalik dan membuatku terkejut, tanpa kusadari aku mundur selangkah ke belakang. Lalu dia tersenyum, senyum yang selalu membuatku tidak karuan. Jujur aku senang, tapi keinginanku melarikan diri lebih kuat daripada harus menghadapinya saat ini. Perlahan aku mundur lalu membalikan badanku, tapi dia menahanku, dia menahan tanganku.
“makasih ya gelangnya” ucapnya tulus
“ta… tapi darimana kakak tahu kalau gelang itu dariku?” tanyaku dengan kata-kata yang sedikit terbata.
“tadi pagi ada juara marathon yang larinya super kenceng, sampai-sampai ngejatuhin kado imut berwarna biru”
Dia tertawa kecil sedangkan aku tersenyum malu, lalu dia mengeluarkan kotak itu dari saku celananya dan menyodorkannya padaku. Aku tidak mengerti mengapa dia mengembalikan kotaknya padaku, padahal dia menerima isinya.
“maaf ya sebelumnya, aku merubah sedikit gelang yang kamu berikan”
Dia menunjukan gelang yang bertengger di tangan kirinya, aku menyadari ada sesuatu yang berubah dari gelang yang ku buat sendiri itu. Tidak ada lagi gambar eceng di tengah, di antara huruf F dan F, yang ada sekarang adalah angka 2.
“tidak apa-apa kok kak, gelang itu sudah menjadi milik kakak, dan kakak bebas mau melakukan apa saja dengan gelang itu” ada sedikit nada kekecewaan, ya aku sadar akan hal itu dan aku ingin menunjukannya.
Suasana menjadi hening, dan kami tenggelam dalam lamunan masing-masing. Aku ingin sekali dia menyadari bahwa aku yang terlebih dahulu menyukainya bukan kak Nurul, tapi itu egois namanya, aku tidak ingin menjadi orang egois yang memikirkan diri sendiri, mementingkan kemenangan untuk diriku sendiri. Lamunanku berakhir ketika dia mulai bersuara.
“aku tahu kalau kamu suka sama kakak” pernyataannya membuat pipiku memerah dan jantungku berdebar kencang, dia mengalihkan pandangannya padaku setelah tadi dia memandang jejeran pohon yang tertata rapi di taman. Aku memberanikan diri membalas tatapannya.
“tapi sepertinya ulul lebih nekat daripada kamu, dia mengutarakan perasaannya terlebih dahulu…”
“jadi kakak tidak mencintainya?” tanyaku memotong perkataannya.
“cinta? Kakak cuma anak SMA ra yang tidak bisa menjanjikan apa-apa. Cinta itu buat orang dewasa yang sudah memikirkan masa depan untuk berkeluarga. Kita ini kan Cuma remaja, yang ada juga sekolah, belajar yang bener bukannya pacaran.
“jadi kakak nggak pacaran sama dia? Itu cuma gosip? Dan kakak ingin fokus dulu sekolah?” aku bertubi-tubi melemparkan pertanyaan hingga dia mencomot bibirku agar tidak bertanya lagi.
“ya intinya seperti itu, perasaan itu dapat menjerumuskan jika dia diutarakan di saat yang tidak tepat. Akan lebih bijak jika rasa ini kita jaga dan ketika waktu yang tepat datang biarkan dia tumbuh dan bersemi.
Kak Fahmi membuka kotak yang ada di tanganku, ternyata disana ada gelang yang terbuat dari perak. Terukir F2F di tengah gelang itu, dia lalu memakaikannya di lengan kiriku.
“friend 2 friend” jari kelingkinnya ditautkan ke jari kelingkingku.
Aku tersenyum lalu membalas perkataanya “friend 2 friend”
TAMAT

Iklan Bawah Artikel