Cerpen Sedih Arti Persahabatan

Selalu Ada

 Arti Persahabatan

Cerpen Karangan: Umi Fauziah M


Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap di meja dekat kanvas dimana ia beraksi melampiaskan imajinasinya melalui cat air.
Sebenarnya… aku iri, sangat iri. Kenapa? Karena ia selalu dipuji-puji oleh semua orang. gurunya, orang tuanya, teman-teman, dan… semua yang melihat lukisannya. Dia adalah salah satu murid berprestasi di sekolah. Yang tak pernah bergeser dari kedudukannya sebagai juara umum kesatu se-sekolahan. Tapi.. biarlah, dia itu kan sahabatku.
Sayangnya… dia sudah meninggal karena kanker otak yang menimpa dirinya. seluruh lukisannya hanya menyisakan kenangan terdalam. kenangan terakhirnya adalah sebuah lukisan yang aku pandangi saat ini. Dia memberikannya padaku saat aku melihatnya sedang melukis sambil menangis dan wajahnya pucat di ruang kesenian sekolah. Gambar lukisan itu adalah dua orang anak sedang bermain di atas perahu di danau. Dan itu adalah aku dan Aurel.
Terakhir kali, hubungan persahabatanku dan aurel hancur. Hanya karena dia merusak teddy bearku saat menginap. Dan sekarang.. aku sadar, boneka itu tidak bisa menghiburku tapi Aurel bisa menghiburku. dan aku melihatnya sedang ada di ruang kesenian dan menangis, wajahnya pun pucat. Aku diam-diam mengintipnya. Dan akhirnya.. ketahuan.
Hari itu… hujan turun amat deras. Disertai petir yang menggelegar. langit bergemuruh Seperti persahabatan kami yang sekarang.
“Maudy… jangan terus bersembunyi” ucap Aurel lirih dan masih terfokus pada pekerjaannya.
“Bagaimana dia bisa tahu?” Batinku.
Aku pun masuk ke ruangan itu dan berdiri kurang lebih dua meter di belakang Aurel.
“Ada apa?” Tanyaku ketus. Ya karena kita masih marahan.
“Lebih dekat..” Seru Aurel lembut.
Dan aku pun melangkah dan berhenti tepat di belakang gadis berwajah sembab itu.
“Sekarang, apa?” Tanyaku seraya memandang langit-langit ruangan.
“Ma.. Ma.. Maudy.. A.. Aku.. Ta.. Ta.. Takut.. Kalau.. Ki.. Kita..” Ucap Aurel terbata-bata dan kembali menangis. Aku pun diam-diam meneteskan air mata. Tapi buru-buru aku mengelapnya.
“Kalau kita..” Kata-kata itu terucap lagi dari mulut mungilnya.
Aku terus melawan air mataku yang keluar ini. Tetapi, tanganku yang terkena air mata malah menambah basah wajahku. Akhirnya aku membiarkannya mengalir.. Dan terus mengalir.
“Akan… berpisah” Lanjutnya. Aku berlari memeluk Aurel dari belakang. Aku marah dia berbicara seperti itu.
“Tidak Aurel, TIDAK!” Bantahku disela-slea tangisanku.
“Jika aku sudah pergi.. tolong jangan menangis karena aku selalu ada di sampingmu, di hatimu. Dan pandangilah lukisan ini terus” Ucap Aurel seraya memberikanku lukisan dua orang perempuan yang tengah bermain di atas perahu di danau dengan ekspresi yang bertolak belakang padaku dan Aurel saat ini.
“Maafkan aku Aurel”
“Aku juga minta maaf… Maudy”
Keesokan harinya..
“hoaaaamm” Aku terbangun dari tidurku jam delapan pagi. lalu mandi dan sarapan sendirian karena ayah dan ibu tidak ada di rumah. aku juga sempat bertanya-tanya. Firasatku pula menunjukan ada yang aneh pada Aurel.
Suara pintu tampak terbuka. Terlihatlah ayah dan ibu dengan perasaan sedih. Mereka memakai baju hitam. Dengan kaget aku menghampiri mereka.
“Aurel… MENINGGAL karena kanker otaknya kambuh!” Ucap ayah yang membuatku tercengang.
Aku pun berlari melalui ayah dan ibu. air mata mulai membasahi pipiku. Setelah sampai di pemakaman, Aku menangis memegang nisan Aurel.
“Aku tahu kamu menyuruhku untuk tidak menangis. Tapi.. aku TIDAK BISA!” Seruku di sela-sela tangisanku.
Kembali ke posisiku sekarang..
“Lukisan ini punya arti besar dalam hidupku. Tapi Aurel. kamulah yang lebih berarti” Aku menangis.
“Perasaan takutku kembali! Kamu menangis!” Seru seseorang.
“Aurel?” Tanyaku kaget.
“Maudy?” Aurel tertawa.
“Aku tidak akan hilang Maudy, Ada di hatimu!” Kata Aurel.
Hari itu aku merasa seperti mimpi. jika itu memang mimpi… Terimakasih tuhan karena sudah menyadarkanku bahwa sahabat itu bukan sekedar bisa kulihat kehadirannya. Tapi juga bisa kurasakan dia selalu ada di hatiku dan di sampingku. Tolong kirimkan salamku pada Aurel Ya Tuhan.

Iklan Bawah Artikel